Senin, 01 Agustus 2016

Salam Rindu




Nyiur angin dipagi hari...
Bercakap-cakap dengan mentari
Mereka berbicara seolah dengan jiwa yang dalam
Hingga akupun terbangun dari mimpiku
            Saat aku membuka mata
            Aku lalu mencari-cari dimana angin dan mentari
            Yang tadi sedang bercakap-cakap
Ku perhatikan sekelilingku tiada kutemukan mereka
Namun gelpa yang kulihat
Nyiur angin di pagi hari...
Aku termenung sejenak dengan jiwa yang membuncah
Tiba-tiba aku terlelap dalam lamunan
Sesosok pria dengan baju putih bersinar sangat memukau
Tersenyum menghadapku...
            Namun saat aku hendak berdiri mendekatinya
            Pria itu menghilang entah kemana
Dan ku dengar Nyiur angin berirama kicau burung
Seolah berbisik bahwa aku baru saja sadar dari tidurku



Jumat, 01 Juli 2016



Langit yang gelap
Seolah menandakan kemurkaan
Memaksa awan menangis
Membentuk butiran-butiran bening
Yang menari-nari diatas tanah
Manusia yang berlalu-lalang kini menghentikan langkahnya
Burung-burung yang berkicau kini berlari menuju sangkar
Ketakutan akan tangis sang awan begitu deras menyerbu bumi,
 Membuat yang hidup menjadi mati sesaat
Tangis yang tak seharusnya meluap
Kini meluap menjadi-jadi karena bringasnya kehidupan
Serakahnya yang mati  mengaku hidup
Takaburnya yang mati mengaku hidup
Menghancurkan harapan hidupnya sendiri
Mati tetapi mengaku hidup
Tak kuasa tetapi mengaku sok berkuasa
Tiada tetapi mengaku Ada
Berulah sesuka hati bersenang-senang tanpa hirarki
Hingga menyakiti bumi yang tak bersalah
Awanpun tak kuasa menahan tangis
Hingga ia teteskan butir-butir bening menjadi bencana
Masih menyalahkan tuhan
Lagi-lagi takabur tak pernah bersyukur
Itulah aku yang hina





Langit yang gelap
Seolah menandakan kemurkaan
Memaksa awan menangis
Membentuk butiran-butiran bening
Yang menari-nari diatas tanah
Manusia yang berlalu-lalang kini menghentikan langkahnya
Burung-burung yang berkicau kini berlari menuju sangkar
Ketakutan akan tangis sang awan begitu deras menyerbu bumi,
 Membuat yang hidup menjadi mati sesaat
Tangis yang tak seharusnya meluap
Kini meluap menjadi-jadi karena bringasnya kehidupan
Serakahnya yang mati  mengaku hidup
Takaburnya yang mati mengaku hidup
Menghancurkan harapan hidupnya sendiri
Mati tetapi mengaku hidup
Tak kuasa tetapi mengaku sok berkuasa
Tiada tetapi mengaku Ada
Berulah sesuka hati bersenang-senang tanpa hirarki
Hingga menyakiti bumi yang tak bersalah
Awanpun tak kuasa menahan tangis
Hingga ia teteskan butir-butir bening menjadi bencana
Masih menyalahkan tuhan
Lagi-lagi takabur tak pernah bersyukur
Itulah aku yang hina