Senin, 27 Juni 2016
Tina: Rinduku
Tina: Rinduku: Airmata mengalir menjadi butir-butir Ditemani pena yang menari-nari Diatas kertas Merasuki jiwa yang terengah-engah Saat kau be...
Rinduku
Airmata mengalir menjadi butir-butir
Ditemani pena yang menari-nari
Diatas kertas
Merasuki jiwa yang terengah-engah
Saat kau berikan warna warni cinta
Rasa ini semakin mendalam
Rasa ini semakin hangat
Terbelenggu hatiku oleh cintamu
Tak banyak berharapku padamu
Cukup kucintai kau dengan hangat
Semoga pertemuan mengirigi kita
kembali
Selasa, 07 Juni 2016
Pengembangan Prinsip Kurikulum
Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu:
Abdullah Hadziq, M. Pd. I
Disusun Oleh:
Disusun Oleh:
Rina Agustina (143111240)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2016
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kurikulum
merupakan seperangkat rancangan pendidikan yang berisi pengalaman belajar yang
diberikan pada siswa disuatu sekolah. Rancangan ini disusun dengan maksud
memberikan pedoman kepada para pelaksana pada lembaga pendidikan dalam prose
belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa,
keluarga, maupun masyarakat. Untuk melaksanakan dan menguji kehandalan suatu
kurikulum biasanya dilakukan dikelas, bisa juga diluar kelas, implementasi dan
aspek-aspek kurikulum lebih banyak tergantung pada guru, disamping memerlukan
pihak lain.
Oleh karena
guru adalah pemegang kunci laksana dan keberhasilan kurikulum yang sesungguhnya
dalam proses pembelajaran ada beberapa prinsip dan pendekatan dalam
pengembangan kurikulum, yang sebaiknya diikuti oleh para pengembag, sehingga
kurikulum yang dihasilkan akan dapat memenuhi harapan banyak pihak.
A.
Rumusan
Masalah
1.
Apa Pengertian Kurikulum?
2.
Apa saja Prinsip-Prinsip Kurikulum?
3.
Faktor Apa Saja yang Mempengaruhi Perkembangan
Kurikulum?
4.
Apa Saja Model-model Pengembangan Kurikulum?
B.
Tujuan
1.
Makalah ini dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Analisis Kurikulum.
2.
Untuk Memahami Bagaimana itu Kurikulum.
3.
Agar Mendorong Mahasiswa Berfikir Kritis
Terhadap Kurikulum.
4.
Memperluas Pengetahuan Mengenai Kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengembangan
Kurikulum
Prinsip berarti dasar, asas, keyakinan, dan
pendirian. Dari pengertian ini dapat tersirat makna bahwa kata prinsip menujuk
pada suatu hal yang sangat penting, mendasar, harus diperhatikan, memiliki
sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau
terjadi pada situasi dan kondisi yang serupa. Prinsip juga mencerminkan hakikat
yang dikandung oleh sesuatu baik dalam dimensi proses maupun dimensi hasil, dan
bersifat memberikan rambu-rambu atau aturan main yang diikuti untuk mencapai
tujuan secara benar.
Esensi dan pengembangan kurikulum adalah
proses identifikasi, analisis, evaluasi, pengambilan keputusan, dan kreasi
elemen-elemen kurikulum prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menunjukkan pada
suatu pengembangan tentang berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam
menentukan berbagai hal yang terkait dengan pembangunan kurikulum, terutama
dalam fase perencanaan kurikulum, prinsip-prinsip tersebut menggambarkan ciri
dari hakikat kurikulum itu sendiri.[1]
B. Prinsip-prinsip
Pengembangan Kurikulum
1. Prinsip-prinsip umum
Prinsip umum pengembangan kurikulum ini
meliputi beberapa prinsip, yaitu:
a. Prinsip Relevansi
Menurut Sukmadinata
dalam Zaini ada dua relevansi yang harus dimilki kurikulum, yaitu relevansi
kedalam dan keluar.[2]
Relevansi ke luar antara lain tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam
kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan
masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam
masyarakat serta menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang dan yang akan
datang. Kemudian juga ada relevansi kedalam, yaitu ada kesesuaian atau
konsistensi anatara komponene-komponen kurikulum, yaitu anatara tujuan, isi,
proses penyempaian, dan penilaian. Serta menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
b. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya
memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk
kehidupan sekarang dan yang akan datang. Kurikulum berisi hal-hal yang solid
dan juga pelaksanaannya memungkinkan terjadinya kesesuaian berdasarkan kodisis
daerah, waktu maupun kemampuan, latar belakang anak.[3]
c. Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini juga
disebut kesimbungan. Yaitu dalam pelaksanaannya perkembangan dan proses belajar
anak berlangsung secara berkesimbungan, tidak terputus-putus. Misalnya
berkesinambungan antar satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antar satu
jenjang pendidikan satu dan jenjang lainnya.
d. Prinsip Praktis
Prinsip ini juga
disebut prinsip efisiensi. Prinsip ini artinya mudah dilaksanakan, menggunakan
alat-alat sederhana dan biaya yang murah. Selain bagus dan idealnya kurikulum
tetapi juga harus praktis dan mudah untuk dilaksanakan.[4]
e. Prinsip Efektivitas
Kurikulum tersebut
harus murah, sederhana, dan murah tetapi keberhasilannya tetap harus
diperhatikan. Keberhasilan peleaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas
maupun kualitas. Dan keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan
pendidikan.
f. Prinsip Integrasi
Menurut Arifin(2011:
34) kurikulum harus dikembangkan berdasarkan suatu keseluruhan atau kesatuan
yang bermakna dan berstruktur. Bermakna maksudnya adalah suatu keseluruhan itu
memilki arti, nilai, manfaat, atau faedah. Implikasinya adalah para pembimbing harus
memperhatikan dan mengusahakan agar pendidikan dapat menghasilkan
pribadi-pribadi yang unggul.
g. Prinsip Objektivitas
Menurut Arifin(2011:
35) kurikulum harus dikembangkan dengan mengusahakan agar semua kegiatan
pendidikan dilakukan dengan tatanan kebenaran ilmiah serta mengesampingkan
pengaruh- pengaruh subjektivitas, emosional, dan irasional.[5]
2. Prinsip-prinsip khusus
Sukmadinata(1997: 152) menyebutkan ada beberapa prinsip
khusus dalam pengembangan kurikulum, antara lain
a.
Prinsip yang berkenaan
dengan tujuan pendidikan
b.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan isi pendidikan
c.
Prinsip yang berkenaan
dengan metode belajar mengajar
d.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan media dan alat pengajaran
e.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan kegiatan penilaian(evaluasi)
C. Faktor- faktor
Pengembangan Kurikulum
Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kurikulum adalah sebagai berikut.[6]
1. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal
mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua,
dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di lembaga
pendidikan tenaga kependidikan, melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan
dari guru-guru yang dihasilkannya. Kemampuan guru-guru akan sangat mempengaruhi
pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah.
2. Masyarakat
Sekolah merupakan
bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat.
Dan sebagai agen dari masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
masyarakat. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan
masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang ada disekitar sekolah mungkin
merupakan masyarakat homogen, atau heterogen, masyarakat desa atau kota, dan
sebagainya. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyakar mempengaruhi
perkembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk
hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha.
3. Sistem Nilai
Kehidupan
masyarakat didalamnya terdapat nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial,
budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga
bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai
yang akan dipeliharta dan diteruskan tersebut harus diintegrasikan dalam
kurikulum. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, polotik,
fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya.[7]
D. Model-Model Pengembangan
Kurikulum
1.
Admistrative
Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama
dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staff
karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator
pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.[8]
2.
Grass
Root Model
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama.
Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari
bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass root karena inisiatif
dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru
atau keseluruhan guru di suatu sekolah.
3.
Demonstration
Model ini dikembangkan untuk memperkenalkan suatu inovasi
kurikulum dalam skala kecil, Dalam pelaksanaannya model ini menurut sejumlah
guru dalam salah satu sekolah untuk mengorganisasikan dirinya dalam memperbarui
kurikulum. Menurut Smith, Stanley, dan Shores, model demonstrasi terbagi
menjadi dua bentuk yaitu Formal dan kurang formal.[9]
4.
Beauchamp’s System
Model
Sistem yang diformulasikan oleh G.A. Beauchamp (1975) dalam
bukunya curriculum theory, mengemukakan adanya lima langkah kritis dalam
pengambilan keputusan pengembangan kurikulum;
a.
Menentukan arena
pengembangan kurikulum
b.
Memilih dan mengikut
sertakan pengembangan kurikulum
c.
Pengorganisasian dan
penentuan prosedur perencanaan kurikulum.
d.
Pelaksanaan kurikulum
secara sistematis
e.
Evaluasi kurikulum
5.
Taba’s Inverted
Model
Model ini merupakan cara yang lazim ditempuh secara deduktif
sehingga model ini sifatnya lebih induktif. Model ini dimulai dengan
melaksanakan eksperimen, diteorikan, kemudian diimplementasikan
6.
Roger’s
Interpersonal relation Model
Model ini berasal dari seorang psikolog Carl Rogers. Dia
berasumsi bahwa kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang
terbuka, luwes, dan adaptif terhadap situasi perubahan
7.
The Systematic
Action Research Model
Tiga faktor utama yang dijadikan bahan pertimbangan dalam
model ini adalah adanya hubungan antar manusia, organisasi, sekolah, dan
masyarakat, serta otoritas ilmu[10]
8.
Emerging Technical
Model
Model teknologis ini terdiri atas tiga variasi model yaitu
model analisis tingkah laku, model analisis sistem, model berdasarkan komputer
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
pengembangan kurikulum adalah proses identifikasi, analisis, evaluasi,
pengambilan keputusan, dan kreasi elemen-elemen kurikulum prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum menunjukkan pada suatu pengembangan tentang berbagai hal
yang harus dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dengan
pembangunan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum,
prinsip-prinsip tersebut menggambarkan ciri dari hakikat kurikulum itu sendiri.
2.
Terdapat dua macam prinsip
kurikulum yaitu prinsip umum dan prinsip khusus, Prinsip umum terdiri atas:
Prinsip Relevansi, prinsip Fleksibilitas, prinsip kontinuitas, prinsip
efisiensi, prinsip efektifitas. Sedangkan Prinsip khususnya terdiri dari:
a.
Prinsip yang berkenaan
dengan tujuan pendidikan
b.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan isi pendidikan
c.
Prinsip yang berkenaan
dengan metode belajar mengajar
d.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan media dan alat pengajaran
e.
Prinsip yang berkenaan
dengan pemilihan kegiatan penilaian(evaluasi)
3.
Faktor yang mempengaruhi
perkembangan kurikulum yaitu: Perguruan tinggi, masyarakat, sistem nilai
4.
Macam model-model pengembangan
kurikulum: Administrative model, grass Roots model, Beauchamp’s model, thaba’s
interved model, Roger’s Interpersonal relation Model, Systematic
action-research model, emerging technical model
Daftar Pustaka
Arifin, Zainal.
2011. Kosnep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Muhammad, Zaini.
2009. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta:
Teras
Nasution. 2006. Kurikulum
dan Pengajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media group
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Pengembangan Kurikulum
teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
[1] Tim Pengembangan MKDP, Kurikulum
dan Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Press), hlm.64
[2] Muhammad Zaini, Pengembagan Kurikulum Konsep Implementasi
Evaluasi dan Inovasi, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 108.
[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997),
hlm. 151
[4] Zainal arifin, Konsep
dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011)
hlm. 32
[5] Zainal Arifin...hlm. 35
[6] Nana Syaodih sukmadinata,
Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2011), hlm.158
[7] Ibid. Hlm. 160
[8] Wina sanjaya. Kurikulum dan Pembelajaran.
(Jakarta: Kencana Prenada Media group) hlm.97
[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997),
hlm. 163
[10]
Ibid. Hlm. 169
Ikhlas Dalam Beramal
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sebagian
orang mengnggap kalau suatu amalan baik secara lahir dan orang tertentu
melakukannya tentu akan mendapat pahala selama orang tersebut melakukan
kebajikan. Mungkin tidak keliru asumsi tersebut apalagi pelaku kebajikan
termasuk dari komunias orang kaya, berkedudukan, memiliki titel dan status
sosial yang cukup terpandang di tengah masyarakat. Fenomena demikian seingkai
terjadi karena manusia secra umm tertarik dengan sesuatu yang bersifat materi
; kebendaan. Dalam
al Qur’an telah disinyalir mengenai sifat manusia bergantung pada benda nyata,
misalnya kisah Nabi Musa as yang ingin mellihat Allah SWT (QS. Al takatsur)
Dalam
menyikapi sikap dan sifat manusia yang cenderung bergantung pad benda, Allah
swt menegaskan beulang kali bahwa hasil amalan apapun yang manusia lakuka harus
dilandasi dengan keikhlasan. Keikhlasan yang menjadi barometer Allah swt
memuliakan manusia menjadi hambaNya yang bertaqwa sekalipun keikhlasan sebagai
dasar utama diterima amalan seseorang namun dalam praktek, niat tetap
membutuhkan tindakan riil. Bukan berarti tindakan nyata orang yang melakukan
kebajikan tidak diperlukan, tetapi tindakannya harus benar-benar didasari niat
yang tulus. Maka pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana relasi antara niat
dengan ikhlas beramal.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
bunyi hadis dan makna global kandungan utama hadis?
2.
Seperti
apa analisa pada hadis ikhlas dalam beramal?
3.
Bagaimana
kategorisasi Niat?
4.
Bagaimana
korelasi niat, hijrah dan ikhlas dalam beramal?
C.
Tujan
1.
Untuk
mengetahui bagaimana hadis mengenai ikhlas dalam beramal.
2.
Untuk
menambah ketaqwaan kepada Allah swt.
3.
Untuk
meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam berfikir kritis.
4.
Agar
menerapkan makna hadis dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Matan Hadis dan terjemahannya:
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ
حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ
اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ
وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن
إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن
مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
...Umar bin khattab ra berkata: sya
mendengar Rasulullah saw bersabda “ Bahwasannya beragam amal itu disertai
dengan satu niat, dan bagi seorang sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka
barang siapa yang berhijrah (kepada tujuannya) Allah dan RasulNya maka
hijrahnya pada Allah dan Rasulnya. Namun siapa saja yang berhirah kepada dunia
yang dia peroleh atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya tersebut pada
apa yang diniatkan saat hijrah padanya”[1]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ
وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
Sesungguhnya
Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan
wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”.(HR. Muslim)[2]
B.
Makna Global dan
kandungan Utama Hadis
Hadis ini menginformasikan pada kaum
muslim bahwa semua amal perbuatan diawali dengan niat. Niat merupakan pokok
pangkal amalan seseorang diniai dan pada akhirnya diterima atau ditolak amalan
tersebut. Dalam mengerjakan suatu perbuatan orang berniat memperoleh sesuatu
dari perbuatannya maka ia akan mendapatkan sesuai nitanya tersebut. Dalam
penggalan hadis diatas terdapat dua model niat yang menjadi contoh yaitu niat
mengerjakan hijraj karena Allah dan RasulNya dan niat mengerjakan hijrah karena
terkait sesuatu yang diinginkan (dunia).[3]
Hadis ini jga mengajarkan agar orang senantiasa melakukan suatu pekerjaan
hendaklah ia berusaha mencari tingkat maksimal yaitu ikhlas beramal untuk
mencari ridha Allah swt dan RasulNya. Dan juga penjelasan Allah swt bahwa
segala sesuatu itu tiadalah bernilai kecuali keikhlasan hati yang dinilai.
C.
Analisa Hadis
Hadis tentang niat merupakan hadis utama
bahkan Imam Syafi’i menganggap hadis tentang niat sebagai sepertiga dari
keseluruhan ajaran islam. Hadis ini merupakan hadis primer.
Secara bahasa niat adalah maksud, tekad
hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang terbetik
dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam kategori niat
secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang berniat. Niat
menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku untuk beribadah
dengan bentuk ibadah tertentu. Bila ditilik dari makna bahasa dan istilah dari
niat terdapat perbedaan mendasar. Makna bahasa daribniat menginformasikan bahwa
niat ada yang berkonotsi positif maupun negatif, sedangkan niat dalam istilah
menekankan agar setiap orang menanamkan dalam hatinya untuk melakukan aneka
kebajikan. Landasan ini condong
mengilustrasikan niat yang sungguh-sungguh hanya pada Allah swt dan RasulNya.[4]
Hadis ini memberi isyarat kalau niat yang
ditanamkan ketika seseorang melakukan amalan hendaklah niat yang tulus atau
ikhlas karena Allah swt, Akan tetapi sebagai manusia tentu memiliki beragam
niat yang mengarah kepada kebaikan maupun keburukan. Pada dasarnya ikhlas dalam
beramal merupakan buah dari niat yang baik semata-mata hanya karena Allah swt
dan RasuNya tanpa mengharap balasan apapun kecuali keridhaanNya.
D.
Kategorisasi Niat
1.
Niat hanya pada Allah swt
dan rasulNya
Niat dalam kategori ini yaitu seseorang
melaksanakan sesuatu dengan menanamkan maksud dan tujuan tujuan hatinya hanya
karena Allah swt dan RasulNya seperti ilustrasi Rasulullah saw tentang
berhijrah karena ingin mencari Ridha allah swt dan RasulNya. Demikian pula
misalnya melakukan suatu perintah syar’i seperti ibadah haji ditujukan
semata-mata mencari ridha Allah swt. Niat dalam kategori pertama ini merupakan
tingkatan tertinggi bagi mereka yang hendak melakukan suatu kebaikan/ amalan
kebaikan.[5]
2.
Niat Beragam untuk suatu
Amalan Syar’i
Selain urusan manusia terkait dengan
ibadah murni pada Allah swt, dalam kehidupan manusia tidak lepas dari beragam
urusan dunia yang terkait dengan keangsungan kesejahteraan mereka dari shalat
dan aneka bentk peribadatan lain yang enar-benar pelaksanaannya terdapat
tuntutan dari Allah swt, sampai perbuatan manusia terkait dengan kehidupan
pribadi maupun sosial berupa jual-beli, nikah, bermasyarakat, dan lain-lain.
3.
Niat Bernialai Pahala dari
Perbuatan Mubah
Konteks hadis niat mengarahkan agar setiap
orang menanamkan sebanyak mungkin niat yang positif, walau hadis niat diatas
dapat mengarah pada niat untuk apa saja positif maupun negatif. Hadis diatas
memberi pesan tersirat kalau setiap orang akan dinilai sesuai niatnya, maka
seyogyanya setiap perbuatan yang dilakukan seseorang hendaklah didasari niat
yang ikhlas mencari Ridha Allah swt termasuk perbuatan mubah sekalipun.
Ketika orang melakukan aktifitas mubah
dalam kacamata hukum seperti makan, minum, dan tidur, tentu itu hanya bagian
dari rutinitas keeharian, tetapi semua perbuatan tersebut akan memperoleh
pahala jika dilakukan dengan niat kebaikan, misalnya makan dengan niat
mensyukuri nikmat Allah swt dan niat agar kuat dalam melaksanakan ibadah
padaNya. Setiap orangpun dapat pula meraih pahala melalui ungkapan reflex
seperti kalimat tasbih yang yan terlontar dari mulutnya ketika kagum melihat
sesuatu. Hal ini menunjukkan betapa maha Rahma dan Rahimnya Allah sw yang telah
memberi milai pada aneka cara dan amalan kecil jika dilakukan dengan niat ibadah.
4.
Niat Melakukan Kejahatan
yang tidak Terealisasi
Orang yang berniat melakukan kejahatan
tidak akan mendapat ganjaran selama niat jahat tersebut belum menjadi suatu
perbuatan nyat yang direalisasikan. Akan tetapi jika niat melakukan kejahatan
tertanam dalam diri seseorang telah berakar menjadi fokus pikiran, disertai
rencana matang persiapan penuh, maka orang tersebut telah memperoleh dosa walau
ia belum melaksanakan niat jahat tersebut. Orang itu dinilai berdosa karena
sepanjang hari yang ada dalam pikirannya tidak lain hanyalah kejahatan.
5.
Niat Berbuat Jahat dan
Direalisasikan
Ketika orang berniat melakukan kejahtan
dan direalisasikan, maka orang tersebut akanmmendapat balasan sesuai dengan
kejahatn yang telah diperbuatnya, jika perbuatan tersebut berupa dosa besar mak
ia juga akan mendapat balasan yang setimpal demikian pula dengan dosa kecil
juga akan mendapatkan balasan sesuai yang ia perbuat. Hanya dalam kejahatan
yang menjadikan orang lain sebagai korban, maka pelakunya harus meminta maaf
pada orang itu karena allah swt tidak akan memaafkan seseorang sebelum ia
memenuhi hak-hak orang lain, Demikian konsensus ulama.[6]
Semua ketntuan ini berkaitan dengan hak-hak sesama manusia sehingga Allah swt
menangghkan sampai sesama manusia merasakan keadilan yang sebenar-benarnya.
E.
Korelasi Niat dengan
Hijrah
Mencermati hadis tentang niat, memuat
penegasan terhadap siapa saja akan memperoleh apa yang diniatkan dapat
menimbulkan pertanyaan substansi mengapa Nabi Muhammad mengaitkan atau
setidaknya memberikan contoh aplikasi niat melalui hijrah. Hal ini tidak bisa
dianggap kebetulan, Niat yang dikorelasikan dengan hijrah mempunyai nilai besar
mengenai pijakan orang yang berniat untuk melakukan sesuatu seperti hijrah.
Niat jika diibaratkan sebagai pendorong utama bagi setiap orang maka perbuatan
apa saja dari niat tersebut akan membuahka hasil yang memuaskan maupun tidak
memuaskan.[7]
Berpijak dari konteks diatas niat yang
dikorelasikan dengan hijrah memuat pesan penting bahwa perubahan apa saja harus
dimulai dengan niat yang baik serta keikhlasan hati dalam berpijak, karenaa
hijrah ketika itu merupakan pengorbanan terbesar.[8]
Hijrah sebagai gerakan yang membawa suatu umat menuju peradaban baru dan
gemilang telah berlangsung sepanjang sejrah umat manusia.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Secara bahasa niat adalah maksud,
tekad hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang
terbetik dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam
kategori niat secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang
berniat. Niat menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku
untuk beribadah dengan bentuk ibadah tertentu.
2.
Kategori Niat
a.
Niat berhijrah kepada Allah dan
RasulNya.
b.
Niat Beragam Untuk Suatu Amalan
Syar’i.
c.
Niat Bernilai Pahala dari
Perbuatan Mubah.
d.
Niat melakukan Kejahatan Yang
Tidak Terealisasi.
e.
Niat Berbuat Jahat dan
DiRealisasikan.
3.
Terdapat korelasi antara niat
dengan hijrah yakni ketika hendak berpijak menuju sesuatu kearah yang baik itu disebut hijrah spiritual kemudian
apabila dikaitkan dengan niat maka ketika hendak berhijrah pasti dilandasi
dengan niat dan apa yang didapatkan akan sesuai dengan niat hijrahnya tersebut.
Daftar
Pustaka
Assagaf, Ja’far, 2015. Jejak- Jejak Cahaya
Nabi muhammad SAW. Surakarta: FATABA Press.
Irsyad, Muhammad, 2012. Hilangkan stress
dengan hipno Ikhlas. Jogjakarta: Najah.
Langganan:
Postingan (Atom)