BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sebagian
orang mengnggap kalau suatu amalan baik secara lahir dan orang tertentu
melakukannya tentu akan mendapat pahala selama orang tersebut melakukan
kebajikan. Mungkin tidak keliru asumsi tersebut apalagi pelaku kebajikan
termasuk dari komunias orang kaya, berkedudukan, memiliki titel dan status
sosial yang cukup terpandang di tengah masyarakat. Fenomena demikian seingkai
terjadi karena manusia secra umm tertarik dengan sesuatu yang bersifat materi
; kebendaan. Dalam
al Qur’an telah disinyalir mengenai sifat manusia bergantung pada benda nyata,
misalnya kisah Nabi Musa as yang ingin mellihat Allah SWT (QS. Al takatsur)
Dalam
menyikapi sikap dan sifat manusia yang cenderung bergantung pad benda, Allah
swt menegaskan beulang kali bahwa hasil amalan apapun yang manusia lakuka harus
dilandasi dengan keikhlasan. Keikhlasan yang menjadi barometer Allah swt
memuliakan manusia menjadi hambaNya yang bertaqwa sekalipun keikhlasan sebagai
dasar utama diterima amalan seseorang namun dalam praktek, niat tetap
membutuhkan tindakan riil. Bukan berarti tindakan nyata orang yang melakukan
kebajikan tidak diperlukan, tetapi tindakannya harus benar-benar didasari niat
yang tulus. Maka pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana relasi antara niat
dengan ikhlas beramal.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
bunyi hadis dan makna global kandungan utama hadis?
2.
Seperti
apa analisa pada hadis ikhlas dalam beramal?
3.
Bagaimana
kategorisasi Niat?
4.
Bagaimana
korelasi niat, hijrah dan ikhlas dalam beramal?
C.
Tujan
1.
Untuk
mengetahui bagaimana hadis mengenai ikhlas dalam beramal.
2.
Untuk
menambah ketaqwaan kepada Allah swt.
3.
Untuk
meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam berfikir kritis.
4.
Agar
menerapkan makna hadis dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Matan Hadis dan terjemahannya:
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ
حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ
اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ
وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن
إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن
مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
...Umar bin khattab ra berkata: sya
mendengar Rasulullah saw bersabda “ Bahwasannya beragam amal itu disertai
dengan satu niat, dan bagi seorang sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka
barang siapa yang berhijrah (kepada tujuannya) Allah dan RasulNya maka
hijrahnya pada Allah dan Rasulnya. Namun siapa saja yang berhirah kepada dunia
yang dia peroleh atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya tersebut pada
apa yang diniatkan saat hijrah padanya”[1]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ
وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
Sesungguhnya
Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan
wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”.(HR. Muslim)[2]
B.
Makna Global dan
kandungan Utama Hadis
Hadis ini menginformasikan pada kaum
muslim bahwa semua amal perbuatan diawali dengan niat. Niat merupakan pokok
pangkal amalan seseorang diniai dan pada akhirnya diterima atau ditolak amalan
tersebut. Dalam mengerjakan suatu perbuatan orang berniat memperoleh sesuatu
dari perbuatannya maka ia akan mendapatkan sesuai nitanya tersebut. Dalam
penggalan hadis diatas terdapat dua model niat yang menjadi contoh yaitu niat
mengerjakan hijraj karena Allah dan RasulNya dan niat mengerjakan hijrah karena
terkait sesuatu yang diinginkan (dunia).[3]
Hadis ini jga mengajarkan agar orang senantiasa melakukan suatu pekerjaan
hendaklah ia berusaha mencari tingkat maksimal yaitu ikhlas beramal untuk
mencari ridha Allah swt dan RasulNya. Dan juga penjelasan Allah swt bahwa
segala sesuatu itu tiadalah bernilai kecuali keikhlasan hati yang dinilai.
C.
Analisa Hadis
Hadis tentang niat merupakan hadis utama
bahkan Imam Syafi’i menganggap hadis tentang niat sebagai sepertiga dari
keseluruhan ajaran islam. Hadis ini merupakan hadis primer.
Secara bahasa niat adalah maksud, tekad
hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang terbetik
dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam kategori niat
secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang berniat. Niat
menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku untuk beribadah
dengan bentuk ibadah tertentu. Bila ditilik dari makna bahasa dan istilah dari
niat terdapat perbedaan mendasar. Makna bahasa daribniat menginformasikan bahwa
niat ada yang berkonotsi positif maupun negatif, sedangkan niat dalam istilah
menekankan agar setiap orang menanamkan dalam hatinya untuk melakukan aneka
kebajikan. Landasan ini condong
mengilustrasikan niat yang sungguh-sungguh hanya pada Allah swt dan RasulNya.[4]
Hadis ini memberi isyarat kalau niat yang
ditanamkan ketika seseorang melakukan amalan hendaklah niat yang tulus atau
ikhlas karena Allah swt, Akan tetapi sebagai manusia tentu memiliki beragam
niat yang mengarah kepada kebaikan maupun keburukan. Pada dasarnya ikhlas dalam
beramal merupakan buah dari niat yang baik semata-mata hanya karena Allah swt
dan RasuNya tanpa mengharap balasan apapun kecuali keridhaanNya.
D.
Kategorisasi Niat
1.
Niat hanya pada Allah swt
dan rasulNya
Niat dalam kategori ini yaitu seseorang
melaksanakan sesuatu dengan menanamkan maksud dan tujuan tujuan hatinya hanya
karena Allah swt dan RasulNya seperti ilustrasi Rasulullah saw tentang
berhijrah karena ingin mencari Ridha allah swt dan RasulNya. Demikian pula
misalnya melakukan suatu perintah syar’i seperti ibadah haji ditujukan
semata-mata mencari ridha Allah swt. Niat dalam kategori pertama ini merupakan
tingkatan tertinggi bagi mereka yang hendak melakukan suatu kebaikan/ amalan
kebaikan.[5]
2.
Niat Beragam untuk suatu
Amalan Syar’i
Selain urusan manusia terkait dengan
ibadah murni pada Allah swt, dalam kehidupan manusia tidak lepas dari beragam
urusan dunia yang terkait dengan keangsungan kesejahteraan mereka dari shalat
dan aneka bentk peribadatan lain yang enar-benar pelaksanaannya terdapat
tuntutan dari Allah swt, sampai perbuatan manusia terkait dengan kehidupan
pribadi maupun sosial berupa jual-beli, nikah, bermasyarakat, dan lain-lain.
3.
Niat Bernialai Pahala dari
Perbuatan Mubah
Konteks hadis niat mengarahkan agar setiap
orang menanamkan sebanyak mungkin niat yang positif, walau hadis niat diatas
dapat mengarah pada niat untuk apa saja positif maupun negatif. Hadis diatas
memberi pesan tersirat kalau setiap orang akan dinilai sesuai niatnya, maka
seyogyanya setiap perbuatan yang dilakukan seseorang hendaklah didasari niat
yang ikhlas mencari Ridha Allah swt termasuk perbuatan mubah sekalipun.
Ketika orang melakukan aktifitas mubah
dalam kacamata hukum seperti makan, minum, dan tidur, tentu itu hanya bagian
dari rutinitas keeharian, tetapi semua perbuatan tersebut akan memperoleh
pahala jika dilakukan dengan niat kebaikan, misalnya makan dengan niat
mensyukuri nikmat Allah swt dan niat agar kuat dalam melaksanakan ibadah
padaNya. Setiap orangpun dapat pula meraih pahala melalui ungkapan reflex
seperti kalimat tasbih yang yan terlontar dari mulutnya ketika kagum melihat
sesuatu. Hal ini menunjukkan betapa maha Rahma dan Rahimnya Allah sw yang telah
memberi milai pada aneka cara dan amalan kecil jika dilakukan dengan niat ibadah.
4.
Niat Melakukan Kejahatan
yang tidak Terealisasi
Orang yang berniat melakukan kejahatan
tidak akan mendapat ganjaran selama niat jahat tersebut belum menjadi suatu
perbuatan nyat yang direalisasikan. Akan tetapi jika niat melakukan kejahatan
tertanam dalam diri seseorang telah berakar menjadi fokus pikiran, disertai
rencana matang persiapan penuh, maka orang tersebut telah memperoleh dosa walau
ia belum melaksanakan niat jahat tersebut. Orang itu dinilai berdosa karena
sepanjang hari yang ada dalam pikirannya tidak lain hanyalah kejahatan.
5.
Niat Berbuat Jahat dan
Direalisasikan
Ketika orang berniat melakukan kejahtan
dan direalisasikan, maka orang tersebut akanmmendapat balasan sesuai dengan
kejahatn yang telah diperbuatnya, jika perbuatan tersebut berupa dosa besar mak
ia juga akan mendapat balasan yang setimpal demikian pula dengan dosa kecil
juga akan mendapatkan balasan sesuai yang ia perbuat. Hanya dalam kejahatan
yang menjadikan orang lain sebagai korban, maka pelakunya harus meminta maaf
pada orang itu karena allah swt tidak akan memaafkan seseorang sebelum ia
memenuhi hak-hak orang lain, Demikian konsensus ulama.[6]
Semua ketntuan ini berkaitan dengan hak-hak sesama manusia sehingga Allah swt
menangghkan sampai sesama manusia merasakan keadilan yang sebenar-benarnya.
E.
Korelasi Niat dengan
Hijrah
Mencermati hadis tentang niat, memuat
penegasan terhadap siapa saja akan memperoleh apa yang diniatkan dapat
menimbulkan pertanyaan substansi mengapa Nabi Muhammad mengaitkan atau
setidaknya memberikan contoh aplikasi niat melalui hijrah. Hal ini tidak bisa
dianggap kebetulan, Niat yang dikorelasikan dengan hijrah mempunyai nilai besar
mengenai pijakan orang yang berniat untuk melakukan sesuatu seperti hijrah.
Niat jika diibaratkan sebagai pendorong utama bagi setiap orang maka perbuatan
apa saja dari niat tersebut akan membuahka hasil yang memuaskan maupun tidak
memuaskan.[7]
Berpijak dari konteks diatas niat yang
dikorelasikan dengan hijrah memuat pesan penting bahwa perubahan apa saja harus
dimulai dengan niat yang baik serta keikhlasan hati dalam berpijak, karenaa
hijrah ketika itu merupakan pengorbanan terbesar.[8]
Hijrah sebagai gerakan yang membawa suatu umat menuju peradaban baru dan
gemilang telah berlangsung sepanjang sejrah umat manusia.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Secara bahasa niat adalah maksud,
tekad hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang
terbetik dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam
kategori niat secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang
berniat. Niat menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku
untuk beribadah dengan bentuk ibadah tertentu.
2.
Kategori Niat
a.
Niat berhijrah kepada Allah dan
RasulNya.
b.
Niat Beragam Untuk Suatu Amalan
Syar’i.
c.
Niat Bernilai Pahala dari
Perbuatan Mubah.
d.
Niat melakukan Kejahatan Yang
Tidak Terealisasi.
e.
Niat Berbuat Jahat dan
DiRealisasikan.
3.
Terdapat korelasi antara niat
dengan hijrah yakni ketika hendak berpijak menuju sesuatu kearah yang baik itu disebut hijrah spiritual kemudian
apabila dikaitkan dengan niat maka ketika hendak berhijrah pasti dilandasi
dengan niat dan apa yang didapatkan akan sesuai dengan niat hijrahnya tersebut.
Daftar
Pustaka
Assagaf, Ja’far, 2015. Jejak- Jejak Cahaya
Nabi muhammad SAW. Surakarta: FATABA Press.
Irsyad, Muhammad, 2012. Hilangkan stress
dengan hipno Ikhlas. Jogjakarta: Najah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar