Selasa, 07 Juni 2016

Ikhlas Dalam Beramal



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Sebagian orang mengnggap kalau suatu amalan baik secara lahir dan orang tertentu melakukannya tentu akan mendapat pahala selama orang tersebut melakukan kebajikan. Mungkin tidak keliru asumsi tersebut apalagi pelaku kebajikan termasuk dari komunias orang kaya, berkedudukan, memiliki titel dan status sosial yang cukup terpandang di tengah masyarakat. Fenomena demikian seingkai terjadi karena manusia secra umm tertarik dengan sesuatu yang bersifat materi
; kebendaan. Dalam al Qur’an telah disinyalir mengenai sifat manusia bergantung pada benda nyata, misalnya kisah Nabi Musa as yang ingin mellihat Allah SWT (QS. Al takatsur)
Dalam menyikapi sikap dan sifat manusia yang cenderung bergantung pad benda, Allah swt menegaskan beulang kali bahwa hasil amalan apapun yang manusia lakuka harus dilandasi dengan keikhlasan. Keikhlasan yang menjadi barometer Allah swt memuliakan manusia menjadi hambaNya yang bertaqwa sekalipun keikhlasan sebagai dasar utama diterima amalan seseorang namun dalam praktek, niat tetap membutuhkan tindakan riil. Bukan berarti tindakan nyata orang yang melakukan kebajikan tidak diperlukan, tetapi tindakannya harus benar-benar didasari niat yang tulus. Maka pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana relasi antara niat dengan ikhlas beramal.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bunyi hadis dan makna global kandungan utama hadis?
2.      Seperti apa analisa pada hadis ikhlas dalam beramal?
3.      Bagaimana kategorisasi Niat?
4.      Bagaimana korelasi niat, hijrah dan ikhlas dalam beramal?
C.    Tujan
1.      Untuk mengetahui bagaimana hadis mengenai ikhlas dalam beramal.
2.      Untuk menambah ketaqwaan kepada Allah swt.
3.      Untuk meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam berfikir kritis.
4.      Agar menerapkan makna hadis dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Matan Hadis dan terjemahannya:
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
...Umar bin khattab ra berkata: sya mendengar Rasulullah saw bersabda “ Bahwasannya beragam amal itu disertai dengan satu niat, dan bagi seorang sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang berhijrah (kepada tujuannya) Allah dan RasulNya maka hijrahnya pada Allah dan Rasulnya. Namun siapa saja yang berhirah kepada dunia yang dia peroleh atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya tersebut pada apa yang diniatkan saat hijrah padanya”[1]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”.(HR. Muslim)[2]

B.     Makna Global dan kandungan Utama Hadis
Hadis ini menginformasikan pada kaum muslim bahwa semua amal perbuatan diawali dengan niat. Niat merupakan pokok pangkal amalan seseorang diniai dan pada akhirnya diterima atau ditolak amalan tersebut. Dalam mengerjakan suatu perbuatan orang berniat memperoleh sesuatu dari perbuatannya maka ia akan mendapatkan sesuai nitanya tersebut. Dalam penggalan hadis diatas terdapat dua model niat yang menjadi contoh yaitu niat mengerjakan hijraj karena Allah dan RasulNya dan niat mengerjakan hijrah karena terkait sesuatu yang diinginkan (dunia).[3] Hadis ini jga mengajarkan agar orang senantiasa melakukan suatu pekerjaan hendaklah ia berusaha mencari tingkat maksimal yaitu ikhlas beramal untuk mencari ridha Allah swt dan RasulNya. Dan juga penjelasan Allah swt bahwa segala sesuatu itu tiadalah bernilai kecuali keikhlasan hati yang dinilai.
C.    Analisa Hadis
Hadis tentang niat merupakan hadis utama bahkan Imam Syafi’i menganggap hadis tentang niat sebagai sepertiga dari keseluruhan ajaran islam. Hadis ini merupakan hadis primer.
Secara bahasa niat adalah maksud, tekad hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang terbetik dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam kategori niat secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang berniat. Niat menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku untuk beribadah dengan bentuk ibadah tertentu. Bila ditilik dari makna bahasa dan istilah dari niat terdapat perbedaan mendasar. Makna bahasa daribniat menginformasikan bahwa niat ada yang berkonotsi positif maupun negatif, sedangkan niat dalam istilah menekankan agar setiap orang menanamkan dalam hatinya untuk melakukan aneka kebajikan.  Landasan ini condong mengilustrasikan niat yang sungguh-sungguh hanya pada Allah swt dan RasulNya.[4]
Hadis ini memberi isyarat kalau niat yang ditanamkan ketika seseorang melakukan amalan hendaklah niat yang tulus atau ikhlas karena Allah swt, Akan tetapi sebagai manusia tentu memiliki beragam niat yang mengarah kepada kebaikan maupun keburukan. Pada dasarnya ikhlas dalam beramal merupakan buah dari niat yang baik semata-mata hanya karena Allah swt dan RasuNya tanpa mengharap balasan apapun kecuali keridhaanNya.
D.    Kategorisasi Niat
1.      Niat hanya pada Allah swt dan rasulNya

Niat dalam kategori ini yaitu seseorang melaksanakan sesuatu dengan menanamkan maksud dan tujuan tujuan hatinya hanya karena Allah swt dan RasulNya seperti ilustrasi Rasulullah saw tentang berhijrah karena ingin mencari Ridha allah swt dan RasulNya. Demikian pula misalnya melakukan suatu perintah syar’i seperti ibadah haji ditujukan semata-mata mencari ridha Allah swt. Niat dalam kategori pertama ini merupakan tingkatan tertinggi bagi mereka yang hendak melakukan suatu kebaikan/ amalan kebaikan.[5]
2.      Niat Beragam untuk suatu Amalan Syar’i
Selain urusan manusia terkait dengan ibadah murni pada Allah swt, dalam kehidupan manusia tidak lepas dari beragam urusan dunia yang terkait dengan keangsungan kesejahteraan mereka dari shalat dan aneka bentk peribadatan lain yang enar-benar pelaksanaannya terdapat tuntutan dari Allah swt, sampai perbuatan manusia terkait dengan kehidupan pribadi maupun sosial berupa jual-beli, nikah, bermasyarakat, dan lain-lain.


3.      Niat Bernialai Pahala dari Perbuatan Mubah
Konteks hadis niat mengarahkan agar setiap orang menanamkan sebanyak mungkin niat yang positif, walau hadis niat diatas dapat mengarah pada niat untuk apa saja positif maupun negatif. Hadis diatas memberi pesan tersirat kalau setiap orang akan dinilai sesuai niatnya, maka seyogyanya setiap perbuatan yang dilakukan seseorang hendaklah didasari niat yang ikhlas mencari Ridha Allah swt termasuk perbuatan mubah sekalipun.
Ketika orang melakukan aktifitas mubah dalam kacamata hukum seperti makan, minum, dan tidur, tentu itu hanya bagian dari rutinitas keeharian, tetapi semua perbuatan tersebut akan memperoleh pahala jika dilakukan dengan niat kebaikan, misalnya makan dengan niat mensyukuri nikmat Allah swt dan niat agar kuat dalam melaksanakan ibadah padaNya. Setiap orangpun dapat pula meraih pahala melalui ungkapan reflex seperti kalimat tasbih yang yan terlontar dari mulutnya ketika kagum melihat sesuatu. Hal ini menunjukkan betapa maha Rahma dan Rahimnya Allah sw yang telah memberi milai pada aneka cara dan amalan kecil jika dilakukan dengan niat ibadah.
4.      Niat Melakukan Kejahatan yang tidak Terealisasi
Orang yang berniat melakukan kejahatan tidak akan mendapat ganjaran selama niat jahat tersebut belum menjadi suatu perbuatan nyat yang direalisasikan. Akan tetapi jika niat melakukan kejahatan tertanam dalam diri seseorang telah berakar menjadi fokus pikiran, disertai rencana matang persiapan penuh, maka orang tersebut telah memperoleh dosa walau ia belum melaksanakan niat jahat tersebut. Orang itu dinilai berdosa karena sepanjang hari yang ada dalam pikirannya tidak lain hanyalah kejahatan.
5.      Niat Berbuat Jahat dan Direalisasikan
Ketika orang berniat melakukan kejahtan dan direalisasikan, maka orang tersebut akanmmendapat balasan sesuai dengan kejahatn yang telah diperbuatnya, jika perbuatan tersebut berupa dosa besar mak ia juga akan mendapat balasan yang setimpal demikian pula dengan dosa kecil juga akan mendapatkan balasan sesuai yang ia perbuat. Hanya dalam kejahatan yang menjadikan orang lain sebagai korban, maka pelakunya harus meminta maaf pada orang itu karena allah swt tidak akan memaafkan seseorang sebelum ia memenuhi hak-hak orang lain, Demikian konsensus ulama.[6] Semua ketntuan ini berkaitan dengan hak-hak sesama manusia sehingga Allah swt menangghkan sampai sesama manusia merasakan keadilan yang sebenar-benarnya.
E.     Korelasi Niat dengan Hijrah
Mencermati hadis tentang niat, memuat penegasan terhadap siapa saja akan memperoleh apa yang diniatkan dapat menimbulkan pertanyaan substansi mengapa Nabi Muhammad mengaitkan atau setidaknya memberikan contoh aplikasi niat melalui hijrah. Hal ini tidak bisa dianggap kebetulan, Niat yang dikorelasikan dengan hijrah mempunyai nilai besar mengenai pijakan orang yang berniat untuk melakukan sesuatu seperti hijrah. Niat jika diibaratkan sebagai pendorong utama bagi setiap orang maka perbuatan apa saja dari niat tersebut akan membuahka hasil yang memuaskan maupun tidak memuaskan.[7]
Berpijak dari konteks diatas niat yang dikorelasikan dengan hijrah memuat pesan penting bahwa perubahan apa saja harus dimulai dengan niat yang baik serta keikhlasan hati dalam berpijak, karenaa hijrah ketika itu merupakan pengorbanan terbesar.[8] Hijrah sebagai gerakan yang membawa suatu umat menuju peradaban baru dan gemilang telah berlangsung sepanjang sejrah umat manusia.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Secara bahasa niat adalah maksud, tekad hati untuk sesuatu. Bermaksud atau sengaja melakukan suatu hal yang terbetik dalam hati seseorang, entah itu baik maupun buruk termasuk dalam kategori niat secara etimilogi. Baik buruknya niat tergantung dengan orang yang berniat. Niat menurut terminologi adalah mengumpuulkan keinginan dari pelaku untuk beribadah dengan bentuk ibadah tertentu.
2.      Kategori Niat
a.       Niat berhijrah kepada Allah dan RasulNya.
b.      Niat Beragam Untuk Suatu Amalan Syar’i.
c.       Niat Bernilai Pahala dari Perbuatan Mubah.
d.      Niat melakukan Kejahatan Yang Tidak Terealisasi.
e.       Niat Berbuat Jahat dan DiRealisasikan.
3.      Terdapat korelasi antara niat dengan hijrah yakni ketika hendak berpijak menuju sesuatu kearah yang  baik itu disebut hijrah spiritual kemudian apabila dikaitkan dengan niat maka ketika hendak berhijrah pasti dilandasi dengan niat dan apa yang didapatkan akan sesuai dengan niat hijrahnya tersebut.






Daftar Pustaka
Assagaf, Ja’far, 2015. Jejak- Jejak Cahaya Nabi muhammad SAW. Surakarta: FATABA Press.
Irsyad, Muhammad, 2012. Hilangkan stress dengan hipno Ikhlas. Jogjakarta: Najah.



[1] Ja’far Assagaf, 2015. Jejak- Jejak Cahaya Nabi muhammad SAW. Hal. 4-5
[2] Muhammad Irsyad,  2012. Hilangkan stress dengan hipno Ikhlas. Hal. 20

[3] Ja’far Assagaf....Hal.5
 [4] Ibid. Hal.6
[5] Ja’far Assagaf...Hal.8
[6] Ja’far Assagaf...Hal. 12
[7] Ja’far Assagaf...Hal. 16
[8] Ibid. Hal. 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar